First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

*..KELIHATANNYA KAU SEDANG MEMUJI ALLAH. PADAHAL KAU SEDANG MEMUJI DIRIMU SENDIRI..*

Kisah Abu Yazid Al-Busthami, yang Insya Allah, dapat kita ambil pelajaran;
Di samping seorang sufi, Abu Yazid juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang murid yang rajin mengikuti pengajiannya.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid, “Guru, aku sudah beribadah tiga puluh tahun lamanya. Aku shalat setiap malam dan puasa setiap hari, dan aku tinggalkan syahwatku, tapi anehnya, aku belum menemukan pengalaman ruhani yang Guru ceritakan.
Aku belum pernah saksikan apa pun yang Guru gambarkan.

Abu Yazid menjawab, “Sekiranya kau puasa dan beribadah selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun dalam ilmu ini.”

Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?”

“Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Abu Yazid.

“Apakah ini ada obatnya, agar hijab ini tersingkap?” tanya sang murid.

“Boleh,” ucap Abu Yazid, “tapi kau takkan melakukannya.”

“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu.

“Baiklah kalau begitu,” kata Abu Yazid, “sekarang pergilah ke tukang cukur, cukurlah (rambut) kepalamu dan jenggotmu, tanggalkan pakaianmu, pakailah baju yang lusuh dan compang-camping.”
Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana.

Katakan pada mereka dengan lantang “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.”
Lalu datangilah (juga) pasarmu (di mana) jamaah kamu sering mengagumimu.”

“Subhanallah, Kau mengatakan ini padaku, apakah ini baik untuk kulakukan?“, kata murid itu terkejut.

Abu Yazid berkata, “Ucapan tasbihmu itu adalah syirik.”

Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?”

Abu Yazid menjawab, “Karena (kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya) kau sedang memuji dirimu.”

murid itu berkata, “Aku tidak mampu melakukannya, tunjukkan aku cara lain yang bisa kulakukan.”

Abu Yazid berkata: ” Mulailah dengan hal ini sebelum yang lain, sampai perasaan agungmu hilang, dan dirimu merasa rendah, lalu akan kuberitahu apa apa yang baik bagimu.”

Sang murid menjawab: “Aku tidak mampu melakukannya.”

Abu Yazid berkata: Kau memang takkan mampu melakukannya!”

(Sumber: Taqdiisul Asykhosh Fil Fikris Shufiy, Jilid 1, hal 431)

Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga, diantaranya:
1- Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur.
2- Abu Yazid menganjurkan muridnya berlatih menjadi orang hina agar ego dan keinginan untuk menonjol dan dihormati segera hilang, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian.
3- Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadah yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan.
4- Orang yang gemar beribadah banyak biasa jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadah dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan kecewa bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya.
5. Ramai yang gagal memahami bahawa istilah kita beribadah dan berdzikir itu secara hakikat bukanlah kita yang beribadah dan berdzikir kepada Allah, tapi anugerah Allah kepada roh dan jasad kita untuk mentajallikan ingat-Nya kepada Diri-Nya melalui penisbahan kepada Roh dan jasad kita kepada Diri Dzat Yang Maha Qayyum. Itu amal Allah (dari sifat-Nya) kepada Diri-Nya (Dzat) yang zahir pada mazhar-Nya pada jasad kita. Pujilah Allah!

Semoga Allah melindungi kita dari sifat MAZMUMAH ZULUMAT…hal -hal yang hina yang akan membuat kita dalam kegelapan di alam kubur dan di akhirat… Aamiin….

*hsy*

LAHIRNYA ‘SALAHUDDIN AL AYUBI’

_VISI PERNIKAHAN ORANG TUA DARI SHALAHUDDIN AL-AYYUBI_

Bahwasanya Najmuddin Ayyub—penguasa Tikrit—belum menikah dalam waktu yang lama. Maka, bertanyalah saudaranya—Asaduddin Syerkuh, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

Asaduddin berkata, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

Dia berkata, “Siapa?”

Ia menjawab, “Puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik—dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Maka, Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Maka, heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Jawaban Najmuddin
Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata, “Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang.

Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata padanya, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Dia Cocok Untukku!
Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu.

Allahu Akbar! Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Mahakuasa?

Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua? Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan. Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran, “Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis ini.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Namanya adalah

SHALAHUDDIN AL AYUBI

Inilah visi pernikahan yang luar biasa sehingga apa yang mereka cita-citakan dikabulkan oleh Allah SWT…

……

….

hsy

KISAH IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I..GURU DAN MURID PUN TERTAWA..

*IMAM MALIK*
*DAN*
*IMAM SYAFI’I*

*_”Guru Dan Murid Tertawa Karena Beda Pendapat ttg REZEKI_*
.
Imam Malik ( guru Imam Syafii ) dalam majlis menyampaikan :

*Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.*
.
Sementara Imam Syafii ( sang murid berpendapat lain) :

*Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.*

*_Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya._*
.
Suatu saat tengah meninggalkan pondok, Imam Syafii melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

*Imam Syafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.*
.
Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. . Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat *“seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”*
.
Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan.
*“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok…hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.* ……Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. *Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”*
.
Guru dan murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.
Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja..

Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua..

*11 RAMADHAN,, WAFATNYA SAYYIDATUNA KHADIJAH RADHIYALLAHU ‘ANHA*

كفن خديجة كفنان واحد من الجنة والآخر رداء رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم

_Kain kafan Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha ada dua,, satu dari syurga dan satu lagi merupakan kain rida’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam_

لمّا اشتدّ مرضها رضي الله عنها قالت يا رسول الله‏ اسمع وصاياي

_Manakala Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha mengalami sakit menjelang wafatnya,, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,, “Wahai Rasulullah,, dengarkanlah permintaanku”.._

أوّلاً إنّي قاصرة في حقّك فاعفني يا رسول الله
قال‏ صلى الله عليه وآله وأصحابه وسلم حاشا وكلّا ما رأيت منكِ تقصيراً فقد بلغتِ بجهدك وتعبت في داري غاية التعب ولقد بذلت أموالكِ وصرفت في سبيل الله مالَكِ

_Pertama,, sesungguhnya aku belum sepenuhnya menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri kepadamu,, maka maafkanlah diriku wahai Rasulullah,,_
_Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,, “tidak demikian wahai istriku,, sungguh aku tidak melihat satu kekurangan pun dari dirimu,, sesungguhnya engkau telah sangat bersungguh-sungguh dan benar-benar sangat lelah,, engkau telah memberikan seluruh hartamu dan mempergunakan seluruhnya di jalan Allah Ta’ala_,,

ثانياً أوصيك بهذه وأشارت إلى فاطمة فإنّها يتيمة غريبة من بعدي فلا يؤذينها أحد من نساء قريش ولا يلطمنّ خدّها ولا يصيحنّ في وجهها ولا يرينّها مكروهاً

_Kedua,, aku meminta kepadamu menjaga anak ini (beliau mengisyarahkan kepada anak perempuan beliau yang pada saat itu masih kecil,, Sayyidatuna Fathimah radhiyallahu ‘anha),, sesungguhnya dia akan menjadi anak yatim yang terasing sesudah wafatku,, maka tidak seorang perempuan Quraisy pun yang boleh menyakitinya,, tidak ada di antara mereka yang boleh menampar wajahnya,, meneriaki dirinya,, dan menampakkan hal-hal yang tidak baik pada dirinya_,,

ثالثاً إنّي خائفة من القبر أُريد منك رداءك الذي تلبسه حين ‏نزول الوحي تكفّنني فيه
فقام النبي صلى الله عليه وآله وأصحابه وسلّم الرداء إليها فسرّت به سروراً عظيماً
فلمّا تُوفّيت خديجة أخذ رسول الله‏ صلى الله عليه وآله وأصحابه وسلم في تجهيزها وغسّلها
فلمّا أراد أن يكفّنها هبط الأمين جبرائيل وقال يا رسول الله إنّ الله يقرئك السلام ويخصّك بالتحية والإكرام ويقول لك يا محمّد إنّ كفن خديجة من عندنا فإنّها بذلت مالها في سبيلنا

_Ketiga,, sesungguhnya aku sangat takut dengan azab kubur,, karenanya aku menginginkan kain rida’-mu yang engkau pakai ketika menerima wahyu,, kafankanlah aku dengan kain rida’-mu tersebut_,,
_Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menyerahkan kain rida’ beliau kepada istri tercintanya,, Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha_,,
_Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha pun teramat sangat bergembira dengan pemberian tersebut_,,
_Dan ketika beliau wafat,, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mengurusi jenazah dan memandikan beliau_,,
_Pada saat beliau hendak dikafani,, turunlah Malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata,, ” wahai Rasulullah,, sesungguhnya Allah Ta’ala mengirimkan salam kepadamu dan memberikan penghormatan & kemuliaan khusus kepada Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha,, dan Allah Ta’ala mengatakan,, “wahai Muhammad,, sesungguhnya kain kafannya berasal dari Kami,, karena sesungguhnya ia telah memberikan hartanya di jalan Kami”_,,

فجاء جبرائيل بكفن وقال يا رسول الله هذا كفن خديجة وهو من أكفان الجنّة أهداه الله إليها
فكفّنها رسول الله‏ صلى الله عليه وآله وأصحابه وسلم بردائه الشريف أوّلاً وبما جاء به جبرائيل ثانياً
فكان لها كفنان كفن من الله وكفن من رسوله

_Malaikat Jibril ‘alaihissalam membawa satu kain kafan dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,, “ini adalah kain kafan Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha dan kain kafan ini berasal dari kafan-kafan syurga,, dihadiahkan oleh Allah Ta’ala kepada Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha_,,
_Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkafani istri tercinta beliau tersebut dengan kain rida’ beliau sendiri pada kali pertama dan selanjutnya dengan kain kafan yang diberikan oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam_,,
_Karenanya,, Sayyidatuna Khadijah radhiyallahu ‘anha dikafani dengan dua kain kafan,, satu kain kafan hadiah dari Allah Ta’ala dan satunya lagi kain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam_,,

ذكرى وفاة ام المؤمنين خديجة بنت خويلد سلام الله عليها

_11 Ramadhan,, mengenang wafatnya Ummul Mu’minin Sayyidatuna Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha_

#hsy